Apakah Iman Anda Adalah Iman Yang Menyelamatkan?

Kita diselamatkan oleh iman kita di dalam Yesus Kristus. Titik, jangan ditambahkan dengan yang lain misalnya perbuatan baik yang kita lakukan atau kebenaran diri sendiri.   Kita diselamatkan ketika kita, dengan iman, menerima karya Kristus yang sudah genap, semua dosa kita pada masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang sudah diampuni.  Setiap dosa yang pernah Anda lakukan dan setiap dosa yang akan Anda lakukan sudah disucikan – 1 Yohanes 1:7; kolose 2:13.

Gereja atau perbuatan baik atau agama tidak menyelamatkan saudara karena keselamatan tidak didasarkan pada siapa diri Anda, atau apa yang sudah Anda lakukan, melainkan apa yang sudah dilakukan Allah bagi Anda.  Keselamatan ada di dalam Yesus Kristus (KPR 4:12) dan keselamatan adalah kasih karunia Allah yang diterima dengan iman (Efesus 2:8-9).  Itulah sebabnya Alkitab berkata, “Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” (Roma 3:28).

Saya yakin saudara tidak perlu mengerutkan dahi untuk memahami hal tersebut di atas.  Tetapi ada beberapa pernyataan yang sering membuat saya mengerutkan dahi saya ketika seseorang menyatakan imannya.  Saya bertanya-tanya, apakah maksudnya dengan pernyataannya itu?  Karena SEBERAPA SERING APA YANG DIMAKSUDKAN DAN APA YANG KITA DENGAR TIDAKLAH SAMA?  Pernah seseorang berkata, “Saya tidak tahu Alkitab atau teologi tetapi saya memiliki iman.”  Tampaknya ia ingin mengatakan bahwa saya tidak tahu doktrin atau teologi atau saya tidak perlu tahu apakah doktrin dan kepercayaan saya yang penting saya beriman.”

Saya tidak ragu sedikit pun bahwa ia punya iman.  Kita semua punya iman.  Kita hidup oleh iman, dan setiap hari menerapkannya dalam berbagai cara.  Kita duduk di kursi dengan iman, percaya bahwa kursi itu akan menopang bobot kita.  Ketika naik pesawat terbang, kita menaruh iman kita pada pesawat dan pilot.  Dokter mengatakan bahwa kita menderita sakit yang belum pernah kita dengar, ia menulis resep yang tidak dapat kita baca yang berisi nama-nama obat yang tidak dapat kita ucapkan, dan yang kita bawa pada seorang apoteker yang tidak kita kenal, yang memberi kita sebotol cairan dengan rasa seperti racun, lalu kita minum dan kembali untuk beli lagi—inilah iman.

Tetapi iman macam apa ini?  Anda tidak dapat menyerahkan diri pada Kristus dengan jenis iman yang sama seperti yang kita pakai untuk duduk di kursi.  Iman alami dan iman alkitabiah bekerja dengan cara yang sama, tetapi dalam alam yang berbeda.

Saat ini, melalui mimbar agama di televisi, dalam bacaan-bacaan kristen, dan dari mimbar-mimbar, kuasa iman dikhotbahkan dan dipuji.  Banyak orang menyatakan memiliki iman dan banyak orang meminta iman.  Janji-janji dibuat atas nama iman mulai dari yang rutin sampai yang menggelikan, mulai dari “Allah ingin saudara sehat.” Sampai, “Semua orang bisa memiliki mobil Cadillac sendiri.”

Pegawai bank ketika berhadapan dengan uang, mengetahui bagaimana mengujinya, mengetahui bagaimana menentukan bahwa itu uang asli.  Dapatkah kita melakukan hal yang sama terhadap iman?  Ketika diperhadapkan dengan sesuatu yang menyatakan diri iman, apakah kita akan mengetahui bagaimana membuktikan benar atau tidaknya pernyataan itu?

IMAN YANG MENYELAMATKAN ADALAH IMAN YANG BERASAL DARI FIRMAN ALLAH.

Alat yang Allah pakai untuk melahirkan iman adalah firmanNya.  Kalau iman Anda tidak lahir dari Firman Allah, maka pengakuan Anda bahwa Anda beriman kepada Kristus adalah pengakuan yang sia-sia, karena jenis iman yang tidak lahir dari firman Allah bukanlah jenis iman yang menyelamatkan.

Saya Pernah mendengar seseorang berkata, “Kalau saudara percaya dengan segenap hati, saudara pasti menerima apapun yang Saudara inginkan.”  Inilah jenis iman yang sama yang dimiliki oleh orang yang berkata, “Saya tidak kenal Alkitab, tetapi saya punya iman.”  Bahkan ada orang yang membanggakan ketidaktahuannya dan bermegah diri di dalam keadaan mereka..yang penting bagi mereka adalah bahwa mereka beriman.

Saya bertanya kepada seseorang yang masuk kristen dari agama lain.  Pertanyaan saya, “Apakah bapak sudah selamat?”

Dia menjawab, “Saya sekarang beragama kristen.”

Saya menjawab, “Saya tahu bapak sekarang beragama kristen karena bapak sudah pasang kalung salib, tetapi pertanyaan saya apakah bapak sudah selamat?”

Lalu dia menjawab, “Yah sudahlah wong saya sudah beriman sama Tuhan Yesus.”

Saya tanya lagi, “Bagaimana bapak sampai beriman kepada Yesus?”

Dia menjawab, “Saya beriman karena saya menyaksikan mujizat Tuhan yang luar biasa.”

Bapak ini beriman karena menyaksikan mujizat…Imannya lahir dari penglihatan.  Apakah iman jenis ini menyelamatkan dia?

Saya akan menjelaskan hal ini mulai dengan Definisi iman.

Di dalam Ibrani 11:1 dikatakan bahwa “Iman adalah dasar (Substansi) dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti (keyakinan) dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”

Ayat ini mengemukakan dua hal tentang iman.

Pertama, Iman adalah substansi dari segala sesuatu yang kita harapkan.  Iman adalah sesuatu yang begitu nyata sehingga disebutkan sebagai suatu “substansi”.  Dalam bahasa Yunani dipakai kata ”hupostasis” secara aksara artinya, “yang berdiri dibawah” atau “merupakan dasar untuk”.  Kata “hupostasis” tersebut juga terdapat dalam Ibrani 1:3.  Di situ kita membaca bahwa Yesus adalah “gambar wujud Allah.”  Kata yang diterjemahkan sebagai “wujud” adalah hupostasis.  Arti ungkapan ini adalah Allah Bapa merupakan realita atau kenyataan yang mendasari, yang kekal dan tak kelihatan, sedangkan Yesus Kristus, AnakNya, merupakan wujud yang kelihatan dari realita tersebut.  Jadi jika terjemahan ini dipakai juga di dalam Ibrani 11:1, maka iman adalah suatu realita; iman merupakan suatu substansi yang ada.

Kedua, Iman dikatakan sebagai “bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”  Terjemahan dalam bahasa Inggris mengatakan, “Keyakinan akan hal-hal yang tidak terlihat.”  Terjemahan manapun yang dipakai, intinya adalah bahwa iman berhubungan dengan hal-hal yang tidak kelihatan oleh mata manusia.  Dua ayat sesudah itu, yaitu di dalam Ibrani 11:3, Penulis sekali lagi menekankan hubungan antara iman dengan dunia yang tidak kelihatan itu.

Dengan demikian, iman mengacu kepada dua realita kekal yang tak kelihatan, yaitu Allah dan firmanNya.  Iman menurut definisi Alkitab, yaitu iman yang alkitabiah, hanya didasarkan atas dua hal tersebut.  Dalam bahasa percakapan sehari-hari, bisa saja kita menggunakan kata “iman” atau “percaya” dalam arti yang luas.  Kita mengatakan “percaya” kepada surat kabar tertentu, atau “percaya” akan suatu merek obat, atau “percaya” kepada seorang pemimpin politik tertentu.  Tetapi dalam Alkitab, bukan demikian definisi pemakaian kata”iman” dan “percaya” itu.   Di dalam Alkitab, iman hanya berhubungan secara khusus dengan perkara yang tidak terlihat oleh mata jasmani manusia, yaitu Allah dan Firman Allah.

Berdasarkan 2 Korintus 5:7, iman dan penglihatan adalah dua hal yang merupakan kebalikan satu sama lain.  Untuk berjalan dengan penglihatan tidak diperlukan iman.  Tetapi apabila berjalan dengan iman, kita tidak perlu melihat.

Ini jelas bertentangan dengan pola berpikir manusia pada umumnya.  Semboyan manusia adalah “percaya sesudah melihat” tetapi di dalam Alkitab urutan terbalik—Percaya dahulu, baru kemudian kita akan melihatnya.

Mazmur 27:13  “Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan di negeri orang-orang yang hidup.”

Ibrani 11:27  “Karena iman maka ia telah meninggalkan Mesir dengan tidak takut akan murka raja.  Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan.”

Sesungguhnya berdasarkan kenyataan yang dilihatnya, tak ada sedikit pun harapan bagi Musa.  Begitu banyak kesulitan yang dihadapinya, namun ia “bertahan” oleh karena ia dapat “melihat apa yang tidak kelihatan.”  Bagaimana caranya?  Dengan iman.   Iman itulah yang memungkinkan kita untuk, “melihat apa yang tidak kelihatan”, sehingga dapat bertahan terus, meskipun berdasarkan apa yang terdapat di depan mata, sudah tidak ada harapan.

Yohanes 11:39-40

Hal yang sama yang dikatakan Yesus kepada Marta, juga dituntut Yesus dari semua orang yang ingin melihat kemuliaan Allah.  Kita harus “percaya…akan melihat.”  Bukan melihat dulu, lalu baru percaya.  Harus ada iman sebelum terdapat penglihatan.

2 Korintus 4:17-18

Paulus mengatakan bahwa kita, “memperhatikan (melihat)..yang tak kelihatan.”   Bagaimana caranya?  Hanya ada satu cara untuk “melihat yang tak kelihatan” yaitu dengan beriman, dengan percaya.

Jadi Iman menghubungkan kita dengan dua realitas atau kenyataan yang tak terlihat oleh mata manusia, yaitu Allah dan firmanNya.  Antara iman dan penglihatan akan selalu terjadi persaingan.

Roma 10:17, “Jadi iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”

Apa yang melahirkan iman?  Yang melahirkan iman adalah pendengaran bukan pemberitaan.  Memang harus ada pemberitaan, tetapi bukan pemberitaan yang melahirkan iman.  Dan soal mendengarkan yang Paulus maksudkan bukan mendengarkan pemberitaan pengkhotbah tetapi mendengarkan ucapan Kristus sendiri—Kata yang dipakai Paulus dalam Roma 10:17 adalah rhema.  Dalam konteks ini rhema dapat diartikan sebagai ucapan.  “Pendengaran ucapan Kristus.”  Logos adalah firman; rhema adalah perkataan dari firman.  Logos adalah pesan; rhema adalah pesan itu dikatakan.  Logos adalah isi pesan; dan rhema adalah penyampaian pesan itu.  Dalam logos titik beratnya adalah pada isi; dalam rhema titik beratnyaadalah pada bunyinya.  Logos adalah keseluruhan Alkitab; rhema adalah ayat dari Alkitab.

Kita sering mendengar kata-kata pengkhotbah dan bukan Firman Allah, sehingga kita tidak mampu bertindak dengan iman berdasarkan apa yang telah kita dengar.

Jadi iman yang menyelamatkan haruslah didasarkan atas fakta-fakta yang terdapat di dalam Firman Allah.  Iman dimulai dengan suatu pengenalan akan Firman Allah.  Tanpa pengenalan akan Firman Allah, tidak mungkin ada iman sejati.

OBYEK IMAN YANG MENYELAMATKAN ADALAH YESUS KRISTUS.

Pertanyaannya adalah “beriman pada apa?”  Iman harus mempunyai satu obyek.  Ada yang merasa hal yang penting adalah percaya, sementara apa yang dipercayai adalah masalah nomor dua.  Tetapi yang benar adalah iman itu sendiri tidak memiliki kuasa.  Bukan iman yang memindahkan gunung, Allah sendiri yang melakukannya.  Bukan iman Anda yang menyelamatkan Anda, melainkan obyek iman Anda yaitu Yesus Kristus yang menyelamatkan.

Kuasa iman terletak pada obyeknya.  Iman tidak lebih kuat daripada obyeknya.  Hal yang paling penting bukanlah iman, melainkan obyek iman itu.  Saudara dapat percaya dengan segenap hati, jiwa  dan akal budi sampai mati, tetapi jika iman saudara tertuju pada obyek yang salah, saudara hanya membuang-buang waktu saja.

Sebagai contoh, seorang pengkhotbah menyarankan agar pendengarnya “percaya pada kuasa iman.”   Terdengar masuk akal, bukan?  Terdengar seakan-akan alkitabiah.  Tetapi Alkitab tidak pernah menyuruh kita meletakkan kepercayaan kita pada kekuatan iman kita.   Itu adalah hipnotis yang bersifat keagamaan, atau cara berpikir serba mungkin atau sikap mental positif.  Tetapi cara berpikir positif sama sekali berbeda dengan iman alkitabiah.  Iman akan memberi saudara sikap positif, tetapi sikap positi belum tentu berarti iman.

Saya setuju dengan Spurgeon ketika ia berkata, “Jangan pernah menjadikan imanmu itu Kristus, dan jangan menganggap seolah-olah imanmu itu sumber keselamatan yang berdiri sendiri.  Hidup kita dibangun dengan “mata yang tertuju kepada Yesus” dan bukan tertuju kepada iman kita sendiri (Ibrani 12:2).

Jadi iman yang menyelamatkan adalah iman yang berasal dari Firman Allah dan obyeknya adalah Yesus Kristus.

Tautan Sumber

Leave a Reply

www.gbiishalomtiga.org
PHHT 2011
Gedung gereja GBII Sirapan 2010
No Preview
JADWAL IBADAH GEREJA
Kolom Wanita Pojok Pemuda Renungan Utama
Tahukah Anda Bahwa Allah Tidak Bermaksud Untuk Mengendalikan Setiap Gerakkan Kita?
Betapa Pentingnya Salib
Kasihilah Allahmu Dengan Segenap Pemikiranmu
www.gbiishalomtiga.org
PHHT 2011
No Preview
JADWAL IBADAH GEREJA
Mantan Dukun Yang Jadi Percaya