Kasihilah Allahmu Dengan Segenap Pemikiranmu

Yesus mengatakan, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Matius 22:37).

Orang-orang kristen biasa seperti Anda dan saya diharapkan berkeinginan untuk mencintai Allah dengan seluruh hati, jiwa dan akal budi.  KEBANYAKAN ORANG KRISTEN MENCINTAI ALLAH DENGAN HATI DAN JIWA, NAMUN MENINGGALKAN PEMIKIRAN MEREKA…Saya berpikir, betapa menyedihkan seseorang yang mengaku mempercayai sesuatu yang sedikit sekali dipahaminya, sekaligus tidak peduli pada apa yang dipercayainya!

Kerinduan saya adalah menolong orang-orang kristen mencintai Allah dengan semua yang kita miliki–termasuk akal budi dan dimulai dengan mempelajari teologi Alkitab.  Jika kita tidak mempelajari teologi Alkitab, kita mengundang kehadiran beberapa bencana besar.  Pertama, kita membiarkan diri kita sendiri terbuka, mudah diserang oleh orang-orang tidak percaya yang ingin memenangi kita pada kepercayaan kafir mereka.  Kedua, kita tidak dapat mempertahankan iman kita melawan para filsuf zaman ini, yang berhasrat dan siap mencanangkan perang melawan kekristenan. Ketiga, kita tidak dapat menjelaskan injil secara baik kepada orang-orang  yang mencari-cari, yang dengan tulus bertanya mengenai iman kita.

Ataukah kita berpikiran bahwa itu adalah pekerjaan Roh Kudus; kita pasif saja dan Ia akan menutupi kekurangan itu?  Sesungguhnya, Roh Kudus memang melakukan pekerjaan-Nya walaupun kita tidak melakukan pekerjaan kita.  Tetapi, menggunakan Roh Kudus sebagai alasan untuk ketidakpedulian kita terhadap teologi, tentu bukanlah yang dikehendaki Allah.  Pengetahuan itu mutlak diperlukan, dan pengetahuan itu merupakan buah dari pembelajaran.

Setiap kita bertanggung jawab untuk kemajuan kerohanian kita, dan pengkhotbah-pengkhotbah terbaik, guru-guru, dan teolog-teolog di dunia tidak dapat melindungi kita jika kita tidak mempersenjatai diri kita dengan,”ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah”  (Efesus 6:17).

Kebanyakan khotbah dan tulisan kontemporer mengakomodasikan kekristenan untuk “aku dan duniaku”.. Menjalankan Kitab Suci untuk kebutuhan pribadi kita tanpa terlebih dahulu mencari tahu bahwa kita sungguh-sungguh memahaminya.  Aplikasi memang penting, tetapi penekanannya bisa menjadi berlebihan jika orang-orang tidak pernah mempelajari kebenaran yang harus mereka terapkan.  Kita tidak dapat menghayati “kekristenan” tanpa mengetahui kekristenan itu sendiri.  Kita tidak dapat mengaplikasikan sesuatu yang tidak kita ketahui.

Dapatkah seseorang menghadiri gereja dengan setia selama bertahun-tahun dan masih tidak mengetahui, nyaris tidak mengetahui apapun, mengenai pengajaran dan sejarah kekristenan?  Jika kita tidak mempedulikan pengajaran kristen, barangkali kekristenan hanya akan menjadi sebuah kenangan bagi anak cucu kita.  Bahkan sekarang, jika orang yang tidak percaya menyadari tingkat ketidakpedulian kita, seharusnyakah mereka menyimpulkan bahwa kita bukan lagi orang kristen?

Saya membutuhkan orang-orang yang senantiasa mengingatkan bahwa di dalam dunia yang jatuh dan labil, hanya Firman Allah yang mampu bertahan…”Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi Firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.” (Yesaya 40:8).  Ketika tekanan hidup meledak dalam kehancuran, apakah iman kita akan gagal?  Pasti gagal jika kita tidak mengetahuinya.  IMAN KAMI AKAN MEMILIKI SEDIKIT KESEMPATAN UNTUK BERFUNGSI JIKA KAMI TIDAK MEMPEDULIKAN MUATANNYA.

Ada yang berbicara mengenai kehidupan yang diubahkan..tahukah Anda arti kehidupan yang diubahkan itu dan bagaimanakah mendapatkannya?  Rasul Paulus menjawab, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.” Roma 12:2.  Arti kehidupan yang diubahkan ialah pembaharuan akal budi–sebuah pemikiran yang dibentuk dengan kebenaran Allah yang dinyatakan di dalam Alkitab.  Proses pembaharuan akal budi itu dimulai dari mempelajari dasar-dasar teologi Alkitab, dan kemudian memberi diri kita dibentuk dengan apa yang kita pelajari sambil menerapkannya dalam kehidupan kita.

Peringatan Paulus kepada Timotius tampaknya seperti nubuatan untuk zaman kita:  “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya” (2 Timotius 4:3).

Tetapi, pesan singkat Paulus kepada Titus harus tetap mengarahkan para Pendeta: “Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat.”” KITA HARUS MELAKUKAN PEKERJAAN MEMPERSIAPKAN ORANG-ORANG KRISTEN MUDA DENGAN LEBIH BAIK UNTUK MENGHADAPI PERTEMPURAN INTELEKTUAL DAN SPIRITUAL YANG MENANTI DI DEPAN.

LEBAR KEKRISTENAN DI INDONESIA SATU MIL TETAPI KEDALAMANNYA HANYA SATU INCHI. Saya membidik orang-orang kristen yang termotivasi untuk belajar dan bertumbuh di dalam iman.

Tautan Sumber

Leave a Reply

www.gbiishalomtiga.org
PHHT 2011
Gedung gereja GBII Sirapan 2010
No Preview
JADWAL IBADAH GEREJA
Kolom Wanita Pojok Pemuda Renungan Utama
Tahukah Anda Bahwa Allah Tidak Bermaksud Untuk Mengendalikan Setiap Gerakkan Kita?
Betapa Pentingnya Salib
Kasihilah Allahmu Dengan Segenap Pemikiranmu
www.gbiishalomtiga.org
PHHT 2011
No Preview
JADWAL IBADAH GEREJA
Mantan Dukun Yang Jadi Percaya