Mereka Percaya Kepada Kristus Yang Tidak Memenuhi Syarat Untuk Menyelamatkan Mereka

Teologi selalu penting, tetapi tak pernah lebih penting daripada saat ini.  Tanpa disadari, gereja sedang mereguk bidat-bidat kuno tanpa mengenalinya.  Itulah sebabnya kita harus kembali kepada konsili-konsili awal gereja.  Mereka bersidang untuk menjelaskan doktrin, untuk menelanjangi bidat, dan untuk memberikan dasar pemikiran bagi iman kristen.  Dengan adanya kesalahpahaman populer tentang kekristenan yang sedang menyebar luas, sudah saatnya kita kembali kepada asas-asas dasar.  Jika kita tidak melakukannya, beribu-ribu orang yang menyangka bahwa mereka adalah orang kristen, akan menemukan pada hari penghakiman bahwa mereka telah tersesat.

Beribu-ribu orang yang menamakan dirinya orang percaya suatu saat akan menemukan dengan ketakutan bahwa mereka telah percaya pada Kristus yang salah.  Mereka telah percaya kepada seorang Kristus yang tidak memenuhi syarat untuk menyelamatkan mereka.  Saya telah belajar untuk tidak pernah membiarkan seseorang mengatakan kepada saya bahwa ia percaya kepada Kristus tanpa menanyakan, “Kristus yang mana?”

Albert Schwetzer, seorang filantrop (pecinta kemanusiaa), percaya kepada seorang Kristus yang pada hakekatnya sakit pikiran.  Rudolf  Bultmann, seorang teolog Jerman, percaya kepada Kristus yang merupakan tokoh metologi;  Immanuel Kant, seorang filsuf Jerman, percaya kepada Kristus yang manusiawi; Banyak penganut kultus modern percaya kepada Kristus yang diciptakan.

Seorang rohaniawan Perancis, Teilhard de Chardin, menguraikan suatu teologi baru secara terinci di mana jiwa merupakan daya pendorong evolusi.  Ia mengajarkan bahwa manusia sedang berubah menjadi suatu makhluk baru yang mulia oleh roh universal dari Kristus yang kosmis.   Kristus hanyalah sebuah anak tangga pada tangga evolusi.

Tetapi iman yang paling tulus, jika diarahkan pada Kristus yang tak sanggup menyelamatkan, tidak akan membawa kita ke surga.   Yang menjadi soal ialah, Kristus yang manakah yang menyelamatkan?  Kristus yang menyelamatkan manusia adalah Kristus itu adalah Allah sejati dan manusia sejati.

Jika ke-Allahan Kristus adalah dasar doktrin kristen.  Tidaklah cukup untuk percaya kepada Kristus, tetapi percaya kepada Kristus yang sanggup menyelamatkan.  Kadar iman tidaklah sepenting objek iman.  Anda dapat mempercayai bahwa lapisan es atas sebuah kolam yang membeku cukup kuat untuk menopang bobot Anda.  Tetapi kalau tebalnya lapisan itu hanya setengah inci, Anda akan tetap terjeblos.  Sebaliknya, Anda  mungkin ragu-ragu ketika berjalan di atas es setebal 30 cm, namun lapisan itu akan menopang Anda meskipun Anda ketakutan.

Iman saja tidak menyelamatkan; hanya iman kepada oknum yang mampu menyelamatkan dapat membawa keselamatan di dalam hati manusia.  Tidak semua orang yang mengatakan, “Tuhan, Tuhan,” akan memasuki kerajaan Sorga.  Kristus dari kultus-kultus tidak sanggup menjalani hukuman karena dosa.  Percaya kepada Kristus yang lebih rendah daripada Allah berarti memiliki iman yang tidak tepat.

Kita patut bersyukur bahwa mereka yang telah mendahului kita di dalam sejarah gereja menuntut agar kita percaya kepada Kristus yang adalah Allah.  Di dalam diriNya Ia mempersatukan Allah dan manusia; dalam kematianNya Ia mendamaikan manusia dengan Allah.

(Sebagian besar catatan di atas merupakan hasil ulasan Erwin W. Lutzer).

Tautan Sumber

Leave a Reply

www.gbiishalomtiga.org
PHHT 2011
Gedung gereja GBII Sirapan 2010
No Preview
JADWAL IBADAH GEREJA
Kolom Wanita Pojok Pemuda Renungan Utama
Tahukah Anda Bahwa Allah Tidak Bermaksud Untuk Mengendalikan Setiap Gerakkan Kita?
Betapa Pentingnya Salib
Kasihilah Allahmu Dengan Segenap Pemikiranmu
www.gbiishalomtiga.org
PHHT 2011
No Preview
JADWAL IBADAH GEREJA
Mantan Dukun Yang Jadi Percaya