Proaktif Menghadapi Kritik

Seringkali, gembala dan keluarganya menghadapi serangan dari orang yang tidak bersahabat. Terkadang, serangan ini, meskipun tidak adil, mungkin mengandung kebenaran. Kita tetap harus memikirkan kemungkinan itu dan menghadapinya dengan benar. Berikut ini ada 13 cara proaktif menanggapi serangan:

1.      Yang terbaik adalah untuk tidak mempertahankan diri. Jika tuduhan itu benar, mintalah pengampunan, rendahkanlah diri, dan cobalah memperbaiki diri. Jika mereka salah, biasanya tidak akan yakin dengan pembelaan Anda. Katakan kepada mereka bahwa Anda percaya bahwa Anda tidak bersalah, tetapi Anda memang tidak sempurna dan akan melakukan yang terbaik untuk memperbaiki hal itu.

2.      Jangan menyerang balik. Jangan membalas. Anda akan kalah jika membalas. Jika serangan tersebut dalam rapat, jangan menjawab serangan itu. Alihkanlah ke masalah yang lain.

3.      Jika anak-anak atau istri Anda diserang, dan Anda tahu bahwa memang demikian, selesaikanlah dengan mereka secara proporsional. Janganlah justru menyerang pengritiknya. Ajaklah pengritik tersebut untuk berdoa bersama Anda bagi anak-anak dan istri Anda. Anda perlu mereka untuk berdoa bersama Anda dan bukan mengritik Anda. Jika serangan itu tidak adil, abaikanlah saja. Berupayalah sekuat mungkin untuk membuat penyerang itu berada di pihak Anda. Jika Anda menganggapnya secara pribadi dan marah, Anda akan membangun tembok dengan penyerang, dan Anda menjadi pihak yang kalah.

4.      Saat menghadapi kritik, cobalah untuk berhenti dan mundur sesaat dan dapatkan gambaran besarnya. Jangan tenggelam dan sakit hati. Yesus dan Paulus diserang. Mengapa kita berpikir bahwa kita terlalu hebat sehingga tidak ada orang akan menyerang kita? Mungkin, kita memang itu adalah blind spot kita dan hanya bisa terlihat oleh orang lain, dan kiranya Tuhan akan menolong kita menjadi hamba yang lebih berguna melalui serangan-serangan itu.

Kita semua memiliki blind spot. Semakin cepat kita menemukannya, kita akan semakin lebih berguna dalam pekerjaan Tuhan. Ingatkah korban yang harus terjatuh dalam Perjanjian Lama karena dosa pengabaian. Namun, bukan hanya dosa pengabaian, seperti Imam Eli, ada juga bias dan prasangka pribadi yang tanpa sadar yang saya sebut sebagai blind spot (Luk. 6:39, 40). Seringkali, kita mengumpulkan orang yang juga memiliki blind spot yang sama dengan kita sebagai pengikut, dan kita menyingkirkan orang yang tahu blind spot kita dan menolak untuk ikut.

5.      Pandanglah dengan jujur akan apa yang dikatakan kritik tersebut tentang Anda. Orang tidak dapat mengetahui motif-motif Anda, namun mereka dapat menghakimi kata-kata Anda, tindakan Anda, dan cara Anda melakukan sesuatu. Itulah yang seringkali ditentang.

6.      Jika kritik dan reaksi yang sama terjadi lebih dari dua kali, mungkin memang ada sesuatu dengan Anda yang perlu dievaluasi.

7.      Perhatikan orang yang bereaksi terhadap Anda atau mengritik Anda. Apakah ia mengritik semua orang, atau ia biasanya tidak dikenal sebagai pengritik (Ams. 16:7).

8.      Jika orang Kristen yang baik dan saleh mengatakan dengan tulus dan sungguh bahwa Anda memang berperilaku atau bersikap keliru, percayalah kepadanya.

9.      Ingatlah, bahwa penalaran Anda tentang diri Anda sendiri sering bias sehingga Anda tidak bisa melihat jelas dari bias tersebut. Ada perkataan yang mengatakan, “Manusia berpikir, bukan untuk mengambil keputusan berdasarkan akal sehat, melainkan untuk membenarkan prasangka yang sudah Anda miliki.” Jadi, untuk menemukan blind spot Anda, Anda harus mengembangkan keterbukaan diri dan mengizinkan kritik menolong Anda.

10.  Saat Anda menyendiri dengan Tuhan, khususnya ketika Anda mengakui dosa-dosa Anda, Anda harus secara jujur menguji diri sendiri dan mengizinkan Tuhan menguji Anda lebih lanjut. Charles Spurgeon berkomentar demikian, “Anda akan lebih mendapatkan kesimpulan yang apa adanya/jujur jika Anda mencurigai diri Anda sendiri daripada terlalu percaya pada diri Anda sendiri.”

11.  Hati-hatilah untuk tidak kemudian mengurung diri dalam muram. Janganlah serangan itu membuat kita mundur dari kejujuran dan pekerjaan Tuhan. Selalu ada reaksi terhadap kebenaran. Marilah kita tetap berbicara kebenaran dalam kasih (Rm. 12:3).

12.  Saya pernah membaca bahwa Spurgeon mengumpulkan banyak pamflet kritik melawan dia untuk mengritik dia dalam awal pelayanannya dan bahkan mengklipingnya dan menyimpan di perpustakaannya. Orang yang menulis pamflet itu telah dilupakan, tetapi Spurgeon dan karya dan pelayanannya terus berjalan.

13.  Kita harus menjadikan kritik itu sebagai sahabat, bukan musuh, sehingga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik (bnd. Yak. 1:2-4)

–by allofgrace–

Source

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *